Dari Ritual Kematian hingga Legenda Kutukan, Ini Cerita Lengkap Situs Tegur Wangi
Di tengah hamparan persawahan dan perbukitan Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, berdiri sunyi sekumpulan batu besar yang menyimpan cerita ribuan tahun. Situs Tegur Wangi bukan sekadar susunan arca, menhir, dan kubur batu, melainkan saksi bisu perjalanan peradaban megalitik masyarakat Pasemah yang pernah mencapai puncak kebudayaannya di dataran tinggi Besemah.
Batu-batu andesit yang dipahat dengan detail mencengangkan itu seolah berbicara tentang masa ketika manusia dan alam hidup dalam harmoni spiritual. Arca manusia menunggang gajah, kubur batu, hingga monolit yang tersebar di kawasan ini menunjukkan bahwa Tegur Wangi pernah menjadi ruang sakral. Di sinilah leluhur dimuliakan, ritual dijalankan, dan kematian dimaknai sebagai gerbang menuju kehidupan lain.
Bagi masyarakat Pasemah masa lampau, Tegur Wangi diyakini sebagai tempat bersemayam arwah para leluhur. Letaknya yang berada di kawasan lebih tinggi menegaskan keyakinan bahwa roh-roh harus ditempatkan di lokasi yang suci dan dekat dengan alam semesta. Setiap pahatan arca dipercaya bukan sekadar karya seni, melainkan simbol perlindungan, penghormatan, dan penghubung antara dunia manusia dan alam roh.
Namun, waktu mengubah cara pandang. Seiring bergesernya zaman, makna sakral Tegur Wangi bertransformasi menjadi kisah-kisah lisan yang hidup di tengah masyarakat. Legenda Si Pahit Lidah atau Serunting Sakti menjadi narasi yang paling dikenal. Dalam cerita rakyat itu, arca dan batu besar di Tegur Wangi diyakini sebagai manusia yang dikutuk menjadi batu akibat ucapan sakti Si Pahit Lidah. Kisah ini diwariskan turun-temurun, menjadi pengingat tentang kekuatan kata-kata dan pentingnya menjaga lisan.
Meski tampak berbeda, pemaknaan lama dan baru sesungguhnya saling berkelindan. Jika dahulu Tegur Wangi dimaknai sebagai ruang ritual dan penguburan yang mengingatkan manusia pada kefanaan hidup, kini legenda kutukan Si Pahit Lidah mengajarkan nilai moral yang tak kalah kuat. Keduanya sama-sama menjadi cermin kearifan lokal yang membentuk identitas masyarakat Pasemah.
Situs Tegur Wangi hari ini berdiri di persimpangan antara sejarah dan cerita rakyat. Ia bukan hanya destinasi wisata budaya, tetapi juga ruang refleksi tentang bagaimana manusia memaknai kehidupan, kematian, dan warisan leluhur. Di balik batu-batu tua itu, tersimpan pesan bahwa budaya tidak pernah benar-benar hilang, melainkan terus hidup dalam ingatan, cerita, dan keyakinan generasi penerus.


Komentar (0)