Kabur dari Brimob Polda Aceh, Nama Muhammad Rio Muncul di Konflik Rusia-Ukraina

Oleh admin 17 Jan 2026, 07:28 WIB 18 Views

Kabar itu pertama kali beredar pelan di internal kepolisian Aceh. Seorang personel muda Satuan Brigade Mobil Polda Aceh mendadak menghilang dari tugasnya. Tidak ada izin, tidak ada keterangan, dan tidak ada jejak yang jelas. Nama Bripda Muhammad Rio, atau yang juga dikenal dengan inisial MR, perlahan mencuat ke permukaan.

Sejak Senin pagi, 8 Desember 2025, Muhammad Rio tidak terlihat mengikuti apel maupun menjalankan tugas kedinasan. Awalnya, atasan dan rekan-rekannya mengira ia menghadapi persoalan pribadi atau keadaan darurat keluarga. Upaya konfirmasi dilakukan, pencarian internal pun digerakkan. Namun, hari berganti minggu, dan keberadaan Rio tetap menjadi misteri.

Teka-teki itu mulai terkuak hampir sebulan kemudian. Tepat pada Rabu malam, 7 Januari 2026, pukul 23.43 WIB, sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponsel dua anggota Satbrimobda Polda Aceh. Pesan itu dikirim langsung oleh Muhammad Rio. Isinya mengejutkan. Ia menyampaikan kondisinya, disertai foto dan video yang diklaim menunjukkan dirinya telah berada di luar negeri dan bergabung dengan salah satu divisi Angkatan Bersenjata Rusia.

Tak hanya itu. Dalam pesan tersebut, Rio juga mengaku berada di wilayah Donbass, kawasan konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina yang selama ini dikenal sebagai salah satu zona tempur paling intens. Pengakuan itu sontak mengguncang internal kepolisian dan memicu perhatian publik.

Kepala Bidang Humas Polda Aceh, Kombes Pol Joko Krisdiyanto, membenarkan bahwa Bripda MR merupakan personel Satbrimob yang telah melakukan disersi atau meninggalkan tugas tanpa izin pimpinan.

“Yang bersangkutan adalah personel Brimob Polda Aceh yang meninggalkan tugas tanpa izin pimpinan satuan,” ujar Joko, Jumat (16/1/2026).

Namun, ia menegaskan bahwa Bripda MR tidak serta-merta meninggalkan Indonesia dengan tujuan langsung bergabung dengan militer Rusia. Menurut Joko, yang bersangkutan sebelumnya memiliki catatan pelanggaran kode etik profesi Polri dan telah menjalani sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP). Putusan sidang menjatuhkan sanksi administratif berupa mutasi demosi selama dua tahun serta penempatan di Yanma Brimob.

Di sisi lain, informasi yang dihimpun dari laman kosmiindonesia.com menyebutkan bahwa sebelum berangkat ke luar negeri, Muhammad Rio telah melakukan persiapan matang. Ia mengaku mendaftar secara daring ke angkatan bersenjata beberapa negara, termasuk di Eropa, Amerika Serikat, Jerman, hingga Rusia. Rio juga mengklaim diterima oleh militer Rusia karena kemampuan berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris dan Rusia.

Dalam pengakuannya, Rio bahkan menyebut memperoleh pangkat Letnan Dua, bonus awal sebesar dua juta Rubel, serta gaji bulanan ratusan ribu Rubel. Klaim-klaim tersebut hingga kini masih didalami kebenarannya oleh pihak kepolisian.

Polda Aceh sendiri menyatakan telah mengantongi sejumlah bukti pendukung berupa foto dan video, data paspor, serta manifes penumpang pesawat. Dari data itu diketahui bahwa Bripda MR tercatat melakukan perjalanan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Bandara Internasional Pudong, Shanghai, pada 18 Desember 2025, lalu melanjutkan penerbangan ke Bandara Internasional Haikou Meilan sehari setelahnya.

Kasus ini kini terus diselidiki. Di balik seragam yang pernah dikenakannya, kisah Muhammad Rio menjadi potret kelam tentang disersi, pilihan ekstrem, dan dampaknya terhadap institusi kepolisian. Aparat menegaskan, setiap langkah akan ditindaklanjuti sesuai hukum dan aturan yang berlaku di tubuh Polri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *