CAMAT “PESAN” PSK 17 Tahun via Michat! Penggerebekan Kos di Kebun Beler Bongkar Fakta Mengejutkan soal Lonjakan HIV di Bengkulu

Oleh admin 15 Feb 2026, 12:58 WIB 29 Views

Bengkulu – Aksi tak biasa dilakukan jajaran Pemerintah Kota Bengkulu saat melakukan razia dan skrining HIV/AIDS, Minggu (15/2/2026). Camat Ratu Agung, Subhan Gusti Hendri, nekat “memesan” pekerja seks komersial (PSK) melalui aplikasi hijau yang dikenal sebagai Michat, demi membongkar praktik prostitusi terselubung di kos-kosan wilayah Kelurahan Kebun Beler.

Langkah ini merupakan bagian dari operasi gabungan Dinas Kesehatan Kota Bengkulu bersama Satpol PP dalam rangka mengantisipasi dan menekan lonjakan kasus HIV di Kota Bengkulu.

Sebelumnya, skrining dilakukan terhadap terapis wanita di tempat usaha pijat. Namun kali ini, target bergeser ke kos-kosan yang penghuninya diduga kuat menjalankan praktik prostitusi secara online melalui aplikasi Michat.

Camat Ratu Agung terlebih dahulu memesan seorang PSK melalui aplikasi tersebut. Setelah lokasi dipastikan berada di salah satu kos di Kebun Beler, ia lebih dulu mendatangi kamar yang dimaksud.

Tak lama berselang, tim gabungan yang dipimpin Plt Kadis Kesehatan Nelli Hartati bersama Kasat Pol PP Sahat Marulitua Situmorang menyusul ke lokasi. Turut hadir Staf Ahli Walikota Eddy Apriyanto, perwakilan DPM PTSP, Dinas Pariwisata, serta Lurah Kebun Beler.

Saat tim tiba, Camat telah berada di dalam kamar bersama PSK yang dipesannya. Kepada perempuan tersebut dijelaskan bahwa kedatangan tim adalah untuk melakukan tes HIV, karena yang bersangkutan terbukti membuka praktik prostitusi.

Di lokasi, petugas mendapati lima perempuan di kamar berbeda. Tiga di antaranya diketahui sebagai PSK dengan sistem Open BO melalui Michat.

Yang membuat miris, PSK yang dipesan Camat ternyata masih berusia 17 tahun. Temannya berusia 19 tahun. Satu perempuan lain sempat menolak tes HIV dengan alasan bukan PSK, sementara dua lainnya ditemukan berada di kamar bersama pacar masing-masing.

Saat tes HIV berlangsung, Walikota Bengkulu, Dedy Wahyudi, tiba langsung di lokasi. Ia menemui para penghuni kos dan menanyakan identitas serta alasan mereka terjun ke dunia prostitusi.

Salah satu perempuan mengaku berasal dari Bengkulu Tengah, sementara lainnya berdomisili di Hibrida sesuai KTP.

Dedy juga menegur Ketua RT setempat yang dinilai kurang peduli terhadap kondisi lingkungan.

“Kalau dulu penularannya banyak melalui jarum suntik, sekarang banyak karena hubungan seks bebas. Ada salah satu aplikasi tempat transaksi prostitusi. Yang kita prihatin, banyak yang terjangkit usia produktif, bahkan 17 dan 19 tahun,” tegas Dedy.

Ia mengaku tak habis pikir dengan alasan berhenti sekolah karena “capek” atau menikah lalu cerai di usia muda.

Menurut Dedy, peningkatan kasus HIV di Kota Bengkulu menjadi alasan utama dilakukannya skrining langsung ke lokasi-lokasi rawan.

“Kalau ini dibiarkan dan tidak cepat kita atasi, maka lonjakan besar bisa terjadi. Kita sedang berjuang agar kota ini dijauhkan dari bala bencana. Jangan cuek,” ujarnya.

Ia pun meminta seluruh Ketua RT, lurah, dan camat memastikan kos-kosan disewakan sesuai peruntukannya dan tidak dijadikan tempat prostitusi terselubung.

Operasi ini menjadi sinyal tegas bahwa Pemkot Bengkulu tak akan tinggal diam terhadap praktik prostitusi online yang berpotensi mempercepat penyebaran HIV di kalangan usia produktif.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)