Penangkapan Pemeran Video Asusila KKN ”Teh Pucuk Viral” di Lombok Timur, Polisi Beri Klarifikasi

Oleh admin 15 Feb 2026, 14:34 WIB 26 Views

Lombok Timur – Beredar di media sosial (medsos) foto penangkapan pemeran video asusila yang diduga mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang viral lantaran teh pucuk jadi pemicu hubungan intim di salah satu desa di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kepolisian menegaskan foto tersebut merupakan informasi hoaks.

Foto itu viral dan ramai dibahas di Facebook. Dalam unggahan tersebut terlihat sejumlah anggota kepolisian sedang melakukan penangkapan terhadap dua pasang muda-mudi yang disebut-sebut sebagai pemeran video dewasa di dalam sebuah kamar.

Dalam salah satu unggahan, tertulis keterangan: “Pemain utama, pemeran utama, video sudah dijemput polisi.”

Kasatreskrim Polres Lombok Timur Iptu Arie Kusnandar menegaskan bahwa foto penangkapan yang beredar tersebut tidak benar.

“Hoaks itu tidak benar,” jelas Arie kepada detikBali, Kamis (12/2/2026).

Arie menuturkan, hingga kini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait kebenaran video yang beredar. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya di media sosial.

“Saat ini kami masih melakukan penyelidikan. Kami berharap masyarakat untuk tidak cepat percaya pada informasi yang beredar di medsos,” tambahnya.

Sebelumnya, viral di media sosial sebuah video asusila yang diduga melibatkan mahasiswa KKN di Lombok Timur. Rekaman berdurasi 13 menit 17 detik tersebut disebut-sebut direkam di dalam sebuah kamar yang diduga merupakan posko KKN.

Kepala desa setempat membenarkan bahwa pasangan dalam video tersebut merupakan mahasiswa yang melaksanakan KKN di wilayahnya. Namun, ia mengaku tidak mengetahui proses perekaman maupun penyebaran video tersebut.

Media sosial sebelumnya diramaikan oleh video viral yang memancing rasa penasaran netizen. Dalam beberapa hari terakhir, warganet dibanjiri ajakan untuk membuka “link video Teh Pucuk” yang diklaim berdurasi mulai dari hampir dua menit hingga belasan menit.

Klaim tersebut menyebar cepat di berbagai platform, membuat banyak pengguna tergoda untuk ikut mencari demi mengetahui isi video yang disebut-sebut sensasional.

Namun, alih-alih menemukan video yang dimaksud, tidak sedikit pengguna justru terjebak pada tautan mencurigakan. Sejumlah laporan menyebutkan link tersebut mengarah ke halaman iklan agresif, permintaan login tidak wajar, hingga unduhan aplikasi tak dikenal. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran serius terkait risiko keamanan digital.

Dalam kurun waktu 48 jam terakhir, kata kunci terkait video viral “link Teh Pucuk” melonjak drastis di pencarian TikTok dan X. Narasi yang beredar menyebut adanya video “full durasi” dengan muatan sensasional, mulai dari 1 menit 50 detik hingga 17 menit.

Namun setelah ditelusuri, belum ada bukti valid yang mengonfirmasi keberadaan video tersebut. Mayoritas tautan yang beredar tidak mengarah pada konten sebagaimana diklaim.

Fenomena ini memperlihatkan pola lama yang berulang: isu samar dibungkus rasa penasaran kolektif. Ketika topik ramai diperbincangkan, sebagian pengguna terdorong ikut mencari karena takut tertinggal informasi atau mengalami fear of missing out (FOMO).

Pakar keamanan siber menemukan lonjakan tautan palsu yang mengatasnamakan “link asli” atau “video tanpa sensor”. Ribuan tautan tersebut teridentifikasi sebagai pintu masuk berbagai ancaman digital, seperti: Phising, Malware dan aplikasi berbahaya, Adware serta spam notifikasi, Pengalihan ke situs tidak relevan, termasuk judi online.

Sebagian besar korban mengaku diarahkan ke halaman penuh pop-up, diminta melakukan verifikasi mencurigakan, atau diwajibkan login sebelum bisa “menonton”. Pada titik ini, video viral hanya berfungsi sebagai umpan, sementara target utamanya adalah data pribadi pengguna.

Hasil penelusuran juga menunjukkan sebagian besar link video viral yang beredar hanyalah konten lama yang diedit ulang, video tidak relevan, atau sekadar umpan traffic farming untuk mendulang klik.

Masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati sebelum membuka tautan yang dibagikan secara masif, terutama yang menjanjikan konten sensasional tanpa sumber jelas. Literasi digital dan kewaspadaan menjadi kunci agar tidak menjadi korban berikutnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)