Praktik Prostitusi di Kos Kebun Beler! Remaja 17 Tahun Ikut Terjaring
Bengkulu – Langkah tak biasa dilakukan jajaran Pemerintah Kota Bengkulu dalam menekan lonjakan kasus HIV/AIDS. Minggu (15/2/2026), operasi skrining HIV digelar di sebuah kos-kosan di Kelurahan Kebun Beler, Kecamatan Ratu Agung.
Yang mengejutkan, pengungkapan praktik prostitusi terselubung ini bermula dari aksi penyamaran Camat Ratu Agung, Subhan Gusti Hendri, yang memesan pekerja seks komersial (PSK) melalui aplikasi kencan yang kerap disebut “aplikasi hijau” atau Michat.
Sebelum tim turun, camat terlebih dahulu memesan seorang PSK melalui aplikasi tersebut. Dari percakapan itu, diketahui lokasi praktik berada di salah satu kos di wilayah Kebun Beler.
Camat pun datang lebih dulu ke kamar kos dan bertemu dengan perempuan yang dipesannya. Tak lama berselang, tim gabungan yang dipimpin Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, Nelli Hartati, bersama Kasat Pol PP Sahat Marulitua Situmorang, langsung menyusul ke lokasi.
Turut hadir Staf Ahli Walikota Eddy Apriyanto, perwakilan DPM PTSP, Dinas Pariwisata, serta Lurah Kebun Beler.
Di lokasi, petugas mendapati lima perempuan berada di kamar berbeda. Tiga di antaranya terindikasi sebagai PSK atau open booking online (BO) melalui aplikasi kencan.
Yang membuat miris, PSK yang dipesan camat ternyata masih berusia 17 tahun. Rekannya yang berada di kamar berbeda berusia 19 tahun. Sementara satu perempuan sempat menolak tes HIV dengan alasan bukan PSK, dan dua lainnya ditemukan bersama pasangan masing-masing di dalam kamar.
Petugas kemudian melakukan skrining atau tes HIV di lokasi sebagai langkah antisipasi penyebaran.
Saat proses tes berlangsung, Walikota Bengkulu, Dedy Wahyudi, tiba di lokasi. Ia berdialog langsung dengan para penghuni kos, menanyakan identitas serta alasan mereka terlibat praktik prostitusi.
Salah satu perempuan mengaku berasal dari Bengkulu Tengah, sementara lainnya berdomisili di kawasan Hibrida sesuai KTP.
Dedy juga menegur Ketua RT setempat yang dinilai kurang peduli terhadap aktivitas di lingkungannya.
Menurut Dedy, langkah ini dilakukan karena terjadi peningkatan kasus HIV di Kota Bengkulu.
“Kalau dulu penularannya banyak melalui jarum suntik yang sama, tapi hari ini banyak karena hubungan seks bebas. Ada salah satu aplikasi tempat transaksi prostitusi. Yang kita prihatin, banyak yang terjangkit usia produktif,” ujarnya.
Ia menyoroti fakta bahwa ada remaja 17 dan 19 tahun yang sudah terlibat prostitusi. Alasan berhenti sekolah yang disampaikan dinilai tidak masuk akal dan menjadi perhatian serius pemerintah.
Dedy meminta seluruh Ketua RT, lurah, dan camat memastikan kos-kosan digunakan sesuai peruntukannya, bukan sebagai tempat prostitusi terselubung.
“Kalau itu dibiarkan dan tidak cepat kita atasi, maka terjadi lonjakan yang besar akan datang. Kita sedang berjuang agar kota ini dijauhkan dari bala bencana. Jangan cuek,” tegasnya.
Operasi ini disebut akan terus berlanjut sebagai bagian dari upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS di Kota Bengkulu.

Komentar (0)