Gunung Kumbang dan Kota Gaib Sriwijaya: Jejak Kerajaan Tua di Perbatasan Bengkulu–Sumsel

Oleh admin 14 Jan 2026, 04:52 WIB 31 Views

Kabut tipis selalu turun lebih cepat di wilayah perbatasan Kabupaten Kaur, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Di sanalah, di sekitar Muara Sahung, sejarah dan mitos saling berkelindan—seolah tanah ini menolak dilupakan oleh masa lalu. Di balik sunyi hutan dan aliran sungai Luas yang tenang, tersimpan jejak kejayaan maritim Sriwijaya yang pernah menguasai Nusantara pada abad ke-7 Masehi.

Sejak tahun 2008, warga Muara Sahung mulai menemukan benda-benda purbakala saat membuka lahan atau menyusuri tepian sungai. Mangkuk batu peracik obat, potongan batu berukir, hingga artefak yang tak lagi dikenal fungsinya, muncul satu per satu dari perut bumi.

Temuan-temuan itu menguatkan dugaan bahwa wilayah ini bukan sekadar daerah pinggiran, melainkan simpul penting jalur perdagangan pantai barat Sumatera yang terhubung langsung dengan pusat Sriwijaya di Palembang.

Letak geografis Kaur yang berbatasan langsung dengan Sumatera Selatan menjadikannya jalur strategis. Hubungan budaya pun tercermin dari masyarakatnya—percampuran etnis yang hingga kini masih membawa jejak Basemah dan Bumi Sriwijaya. Para peneliti Universitas Bengkulu meyakini, Muara Sahung adalah bagian dari perluasan kekuasaan Sriwijaya, meski banyak situs terancam hilang sebelum sempat diteliti lebih dalam.

Namun, di atas semua bukti sejarah itu, menjulang satu nama yang paling sering disebut dengan nada berbisik: Gunung Kumbang.

Gunung ini bukan gunung api, bahkan ketinggiannya belum pernah diukur secara pasti. Aksesnya hanya melalui Desa Ulak Bandung, Kecamatan Muara Sahung. Bagi masyarakat setempat, Gunung Kumbang bukan sekadar bentang alam—ia adalah penjaga rahasia. Dari mulut ke mulut, berkembang mitos bahwa gunung ini pernah menjadi pusat kota kerajaan Sriwijaya, yang kini beralih rupa menjadi kerajaan gaib.

Salah satu kisah paling terkenal adalah tentang seorang pemburu rusa yang terpisah dari rombongannya. Saat ia keluar dari hutan, yang ia temukan bukanlah desa biasa. Rumah-rumah megah berdiri rapi, orang-orang berpakaian indah seperti di masa kerajaan, dan di tengah keramaian menjulang sebuah pesanggrahan besar. Di sanalah, ia melihat sepasang raja dan ratu—tenang, berwibawa, dan seolah telah menunggunya.

Sang raja memanggilnya mendekat.

“Engkau bukan dari dunia ini,” ucapnya lembut. “Jika ingin selamat, kembalilah ke tempat asalmu.”

Dengan tubuh gemetar, sang pemburu mengikuti petunjuk raja: berjalan lurus hingga menemukan air terjun, lalu masuk ke bawahnya. Saat ia keluar, dunia itu lenyap. Ia kembali berada di sudut Gunung Kumbang—sendiri, sunyi, dan penuh tanya.

Kisah ini membuat warga percaya bahwa Gunung Kumbang dijaga makhluk gaib berpakaian seperti bangsawan Sriwijaya, menjaga sisa-sisa kejayaan yang tak boleh sembarang disentuh.

Keyakinan itu semakin kuat ketika tim napak tilas Sriwijaya menjelajah Bukit Kumbang. Perjalanan yang melelahkan, membabat ilalang setinggi manusia, menebang bambu, dan menembus hutan perawan. Di sepanjang jalan, mereka menemukan kuburan tua di tepi Sungai Luas—diyakini sebagai makam penduduk zaman Sriwijaya, ditemukan peneliti asing pada 2013.

Doa dipanjatkan. Seorang guru supranatural mencoba berkomunikasi secara batin. Alam di lembah Bukit Kumbang masih utuh: lumut tebal di batang pohon, pacet menempel di dedaunan, dan goa-goa yang diyakini menyimpan sisa kehidupan manusia purba. Sayangnya, cuaca dan keterbatasan peralatan memaksa tim mundur sebelum menyentuh inti rahasia.

Di rumah sang juru kunci, artefak-artefak dari Bukit Kumbang tersimpan rapi—benda bisu yang seolah menunggu waktu untuk berbicara. Ukirannya asing, maknanya belum terpecahkan.

Gunung Kumbang berdiri hingga kini, diam, tak aktif, namun penuh cerita. Ia menjadi saksi bahwa kejayaan Sriwijaya tak sepenuhnya tenggelam oleh waktu. Sebagian bersemayam dalam sejarah, sebagian lain memilih hidup sebagai misteri—menunggu siapa yang cukup berani untuk mendengarkan bisikan masa lalu.

Didatangi Tokoh Nasional

Bagi sebagian orang, Kaur hanyalah kabupaten di pesisir barat Sumatera. Namun bagi para penelusur sejarah dan pewaris tutur leluhur, Kaur diyakini sebagai jantung Kerajaan Sriwijaya—pusat yang sengaja disembunyikan oleh waktu.

Keyakinan itu menguat dalam sebuah seminar nasional yang digelar Himpunan Keluarga Sriwijaya Bukit Barisan (HKSBB) beberapa tahun silam. Dalam forum tersebut, para pakar supranatural dan ilmuwan mengemukakan satu pandangan yang mengejutkan: Sriwijaya tidak runtuh, tidak pula hancur—melainkan disilamkan. Kerajaan besar itu seolah ditarik dari dunia kasat mata, meninggalkan jejak yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang peka terhadap tanda.

Dalam riwayat yang tertulis di kitab himpunan Sriwijaya, disebutkan bahwa pusat kekuasaan itu berada di wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Kaur. Muara Sahung, dengan hutan lebat dan sungai-sungai purbanya, dipercaya sebagai salah satu poros utama pemerintahan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi. Letaknya yang berbatasan langsung dengan Sumatera Selatan memperkuat dugaan adanya jalur strategis darat dan sungai yang menghubungkan Kaur dengan Palembang—pusat maritim Sriwijaya yang dikenal dunia.

Mitos semakin mengental ketika salah satu narasumber seminar nasional tersebut menyampaikan ramalan yang membuat ruangan hening. Ia mengungkapkan bahwa pemimpin besar negeri ini kelak akan lahir dari keturunan Kabupaten Kaur, darah yang diyakini masih menyimpan garis Sriwijaya.

“Akan timbul kembali setelah tujuh tahun sembilan bergilir,”
ujar sosok yang disebut sebagai panglima Sriwijaya dalam riwayat tutur.

Gunung Kumbang pun menjadi simbol utama misteri itu. Gunung yang tak pernah tercatat sebagai gunung api, tak terukur ketinggiannya secara ilmiah, namun menjulang tinggi dalam kepercayaan masyarakat. Di sanalah, menurut mitos, berdiri kerajaan ghaib Sriwijaya—lengkap dengan raja, ratu, panglima, dan rakyatnya yang berpakaian kebesaran masa silam.

Kisah pemburu yang tersesat dan bertemu raja ghaib Sriwijaya bukan sekadar dongeng. Ia menjadi pengikat antara cerita rakyat dan temuan ilmiah. Artefak purbakala yang ditemukan sejak 2008—mangkuk peracik obat, batu berukir, hingga sisa pemukiman tua—menjadi saksi bahwa kawasan ini pernah hidup dan berdenyut sebagai pusat peradaban besar.

Keyakinan itu mendapat legitimasi simbolik pada Sidang Mufakat Rajo Penghulu yang digelar di Bengkulu, Selasa 28 November 2017. Sehari setelahnya, empat raja dan seorang ratu Nusantara menyempatkan diri berkunjung ke Kabupaten Kaur, tepatnya ke Kecamatan Muara Sahung—lokasi ditemukannya 17 artefak peninggalan Sriwijaya yang lama terkubur sejarah.

Mereka adalah:

  • Dr Sultan Aji H Andrian Sulaiman dari Kesultanan Paser

  • Dr PNA Mas’ud Thoyib dari Kerajaan Jayakarta

  • Sapto Supono dari Kerajaan Mataram

  • Tatang Supriadi dari Kerajaan Gunung Dempo

  • Siti Zahara, Ratu Bengkulu

Kunjungan itu didampingi Ely Yuniarti dari Kementerian Dalam Negeri RI, serta disambut langsung oleh Bupati Kaur Gusril Fauzi, unsur Forkopimda, tokoh adat, dan masyarakat setempat. Para raja dan ratu sepakat: Muara Sahung memiliki keistimewaan spiritual dan historis, dan diyakini pernah menjadi pusat pemerintahan Sriwijaya di masanya.

Di hadapan masyarakat, Bupati Gusril Fauzi berjanji akan membangun museum dan membuka kembali tabir sejarah Sriwijaya yang selama ini terkubur. Sebuah upaya untuk mengembalikan martabat masa lalu yang nyaris dilupakan.

Kini, antara bukti arkeologis, pengakuan para raja Nusantara, dan mitos yang terus hidup, Kabupaten Kaur berdiri sebagai tanah yang menyimpan rahasia besar.
Sriwijaya mungkin tak lagi berkuasa di peta dunia, tetapi di Kaur, ia dipercaya masih bersemayam—menunggu waktu untuk dikenang, atau mungkin… untuk kembali.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *