Program Revitalisasi SMK Negeri 1 dan SMA Negeri 4 Lebong diduga tak ikuti juklak juknis
Lebong www.potretraflesia.com/ – kembali menjadi perhatian publik, program Revitalisasi sekolah menengah dikabupaten lebong, mendapat kucuran dana hibah dari kementerian pendidikan dasar dan menengah di duga kuat syarat kepentingan pribadi pimpinan disekolah atau kepala sekolah, dimana di Kabupaten Lebong sekolah yang mendapat kegiatan Revitalisasi sekolah menengah Tahun Anggaran 2025 yaitu SMA Negeri 4 Lebong Yang berada di Kecamatan Topos dan SMK Negeri 1 Lebong yang berada di Kecamatan Lebong Tengah Kabupaten Lebong.

Kegiatan Revitalisasi Sekolah Menengah ini hampir luput dari perhatian mengingat Kegiatan ini swakelola, bukan memalui lelang sebagaimana kegiatan kegiatan lainnya yang dianggarkan melalui dana APBN maupun APBD, kegiatan Revitalisasi anggaran dari APBN yang langsung melalui rekening sekolah dan secara teknis pelaksananya dilakukan oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidik (P2SP) atau komite pembangunan sekolah.
Sekolah yang mendapatkan Kegiatan Revitalisasi sekolah menengah dikabupaten lebong mendapatkan kucuran dana yang sangat fantastis, dimana SMA 4 Lebong Mendapatkan Kucuran Dana sebesar 1,2 Milyar dan SMK 1 Lebong mendapatkan kucuran Dana sebesar 3,59 Milyar.

Kurangnya Pengawasan, Program revitalisasi sekolah menengah ini sekan program sebagai ladang korupsi kepala sekolah, komentar ini datang dari Alpian Gunadi salah satu aktivis penggiat anti korupsi kkabupaten lebong saat wawancara awak media, disampaikan olehnya juga hasil investigasi dilapangan dan pernyataaan beberapa panitia pembangunan sekolah yang seolah tidak tau menahu terkait pelaksanaan kegiatan dari program revitalisasi ini sebagai bentuk kecurangan yang sengaja di buat pihak kepala sekolah dalam melakukan perbuatan melawan hukum, jelasnya.
Terkait Kritikan dari aktivis pengiat anti korupsi, awak media mencoba menghubungi kepala sekolah SMK 1 Lebong tengah, hingga berita ini ditayangkan kepala sekolah tidak bisa di hubungi sebagaiman berita sebelumnya memang kepala sekolah susah atau menolak untuk di konfirmasi.
Reporter : DM
Editor : Agus


Komentar (0)