Bukan Sitinjau Lauik, Ini Tanjakan Way Manula yang Disebut Lebih Mengerikan

Oleh admin 14 Jan 2026, 04:28 WIB 110 Views

Malam di Way Manula selalu terasa berbeda. Kabut turun lebih cepat, udara menjadi berat, dan suara hutan seolah berbisik mengikuti setiap kendaraan yang berjuang menanjak. Tanjakan Tebing Batu Way Manula—jalur ekstrem di perbatasan Lampung Barat dan Kabupaten Kaur, Bengkulu—bukan sekadar jalan penghubung lintas Sumatera. Bagi para sopir, tempat ini adalah ujian nyali.

Banyak pengendara mengaku pernah melihat ambulans tua melintas perlahan di tengah tanjakan. Lampunya redup, sirenenya tak berbunyi, namun klaksonnya terdengar panjang dan pilu. Anehnya, ketika kendaraan itu hendak disalip atau diikuti, ambulans tersebut lenyap begitu saja di tikungan tajam.

“Tidak ada sopirnya,” kata mereka yang bersumpah melihat kabin depan kosong, seolah kendaraan itu digerakkan oleh sesuatu yang tak kasatmata.

Tak sedikit pula sopir truk dan bus yang mengaku mendengar klakson mendesak dari belakang, memaksa mereka menepi atau memberi jalan. Namun saat kaca spion ditengok, jalanan kosong.

Hanya jurang gelap dan hutan lebat yang menyambut pandangan. Sebagian memilih membaca doa, sebagian lain memilih mempercepat laju—meski mesin meraung, seakan ditahan oleh tangan tak terlihat.

Cerita paling menggetarkan datang dari mereka yang melintas sendirian menjelang dini hari. Di tengah tanjakan curam, terdengar suara tangisan lirih—kadang menyerupai anak kecil, kadang rintihan panjang seperti orang kesakitan.

Konon, suara itu berasal dari arwah para korban kecelakaan yang tak pernah sampai ke tujuan. Way Manula memang dikenal sebagai jalur rawan, dengan tikungan tajam, tanjakan panjang, dan jurang dalam yang siap menelan kendaraan yang lengah.

Di sekitar tebing itu pula terdapat petilasan yang dikenal sebagai Keramat Manula, makam Syekh Aminullah. Warga setempat percaya, kawasan tersebut bukan sembarang tempat. Ada aturan tak tertulis: jangan berkata kasar, jangan sombong, dan jangan menantang apa pun yang tak terlihat.

Banyak yang yakin, pelanggaran terhadap “pantangan” inilah yang memicu gangguan—dari mesin tiba-tiba mati hingga pengemudi yang mendadak kehilangan fokus.

Kini, jembatan baru—Jembatan Manula—telah berdiri, dan infrastruktur jalan semakin baik. Namun reputasi angker Tanjakan Tebing Batu Way Manula tak serta-merta hilang.

Setiap malam, ketika kabut kembali turun dan suara hutan menguat, kisah-kisah lama seakan hidup kembali. Bagi yang melintas, satu pesan selalu diingat: hormati jalan, jaga lisan, dan jangan pernah merasa sendirian di Way Manula.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *